Jumat, 19 Desember 2014

Sejarah Kaos

Dibanding jenis pakaian lainnya, sejarah kaos oblong sebenarnya belumlah terlalu panjang. Kemungkinan besar kaos baru muncul antara akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Kaos berbahan katun biasanya dipakai oleh tentara Eropa sebagai pakaian dalam (di balik seragam), yang fleksibel dan bisa dipakai sebagai pakaian luar jika mereka beristirahat di udara siang yang panas. Istilah “T-Shirt” (metafor yang mungkin diambil berdasar bentuknya) baru muncul di Merriam-Webster’s Dictionary pada 1920, dan baru pada Perang Dunia II ia menjadi perlengkapan standar dalam pakaian militer di Eropa dan Amerika Serikat.


PF_981250~A-Streetcar-Named-Desire-Posters
Kaos oblong mulai dikenal di seluruh dunia lewat John Wayne, Marlon Brando dan James Dean yang memakai pakaian dalam tersebut untuk pakaian luar dalam film-film mereka. Dalam A Streetcar Named Desire (1951) Marlon Brando membuat gadis-gadis histeris dengan kaos oblongnya yang sobek dan membiarkan bahunya terbuka. Dan puncaknya adalah ketika James Dean mengenakan kaos oblong sebagai simbol pemberontakan kaum muda dalam Rebel Without A Cause (1955).

Teknologi screenprint di atas kaos katun baru dimulai awal “60-an dan setelah itu barulah bermunculan berbagai bentuk kaos baru, seperti tank top , muscle shirt ,scoop neck , v-neck dsb. Berbagai bentuk, gambar, atau kata-kata dalam kaos merupakan pesan akan pengalaman, perilaku dan status sosial. Kaos oblong mengkomunikasikan berbagai lokasi atau identitas sosial: tempat (HRC, Borobudur, Bali, Yogyakarta), bisnis (Coca Cola, Yamaha, Suzuki), tim (MU, Inter Milan), konser atau acara kesenian (Jakjazz), komoditas yang dianggap bernilai (VW, Harley Davidson), sementara banyak juga yang mengkomunikasikan slogan (kaos-kaos Dagadu, Joger).
 Fashion, Kaos, dan Komunikasi
Meski sudah mulai mendunia sejak “50-an, konvensi mode dunia tetap saja belum memasukkan kaos ke dalam kategori fashion . Kaos tetap saja dianggap sebagai pakaian dalam yang tidak pantas dikenakan sebagai pakaian luar. Memakai kaos masih juga dianggap sebagai tindakan yang unfashion. Karena itu pada masa musik heavy metal mulai digemari kalangan muda, mereka ini sengaja memilih seragam kaos oblong sebagai bentuk penolakan terhadap konvensi arus utama mode dunia (high fashion). Menyobek beberapa bagian dari kaos oblong bahkan merupakan bagian dari gaya subkultur punk. Bagi mereka ini bentuk fashion adalahunfashion.
Perubahan dalam bahan dan teknologi produksi kaos turut berperan dalam perubahan makna kaos dalam kehidupan sosial. Ditemukannya polyester dan bahan-bahan fiber artifisial, bersamaan dengan diperkenalkannya bahan drip-dry untuk pembuatan pakaian, penambahan variasi warna, gaya dan tekstur, membuat kaos semakin diterima sebagai pakaian luar. Meski begitu, dalam diferensiasi sistem fashion, hingga sekarang kaos masih digolongkan dalam kategori low fashion (=unfashion?).  Berbeda dengan produk high fashion yang didesain dan dibuat secara khusus untuk orang-orang khusus, hampir semua kaos merupakanlow fashion yang didesain untuk tujuan diproduksi secara massal.
Variasi kaos sebagai pakaian luar sekarang ini sangat beragam. Kaos diproduksi baik dalam warna-warna primer maupun dalam kombinasi yang lebih kompleks, beberapa di antaranya dilengkapi dengan saku untuk menyimpan alat tulis, rokok, atau benda kecil lainnya. Dengan begitu kaos tidak hanya dipakai oleh kalangan muda, laki-laki, atau mereka yang berasal dari golongan bawah saja, tetapi juga dipakai oleh siapa saja. Kita juga melihat kaos dipakai dalam berbagai aktivitas, dari bekerja hingga mengisi waktu senggang, seperti jalan-jalan di pusat pertokoan atau bermain golf.
Kaos oblong sekarang ini juga telah menjadi wahana tanda. Kaos, sebagaimana pakaian lainnya, membawa pesan dalam sebuah “teks terbuka” di mana pembaca atau penonton bisa menginterpretasikannya.
Betapapun klaim atas identitas atau status dalam kaos oblong ini bersifat ambigu, dalam terminologi Umberto Eco (1979), representasinya selalu bersifat undercoded, ia berhubungan secara synecdochical (satu bagian dari kaos mewakili keseluruhan pribadi seseorang) dengan pengalaman, relasi sosial, nilai, atau status yang diklaim secara eksplisit atau implisit oleh pemakainya. Pesan yang disampaikan dalam kaos bukanlah sekedar tentang tempat, kelompok, atau bisnis, tetapi klaim atas status pemakainya. Seorang pemakai kaos oblong Dagadu misalnya, bukan sekedar menyampaikan pesan bahwa kaos oblong yang dipakainya adalah buatan Yogyakarta, melainkan juga mau mengumumkan sebuah pengalaman yang menurut pemakainya cukup penting (ia seperti mau mengatakan,”Mari saya beritahu pengalaman saya jalan-jalan di Yogya”).
bitch_t_shirt-p235243253309390637tr1k_400
Tetapi sekarang ini kaos oblong juga dipakai untuk mengkomunikasikan apa yang bukan bagian dari identitas seseorang. Misalnya, penulis pernah melihat seorang ibu muda yang sedang berjalan mengandeng anaknya. Si ibu ini memakai kaos dengan tulisan “BITCH” di bagian depannya. Apakah si ibu ini tidak mengerti bahasa Inggris atau penguasaan bahasa Inggrisnya pas-pasan, sampai ia tidak mengerti bahwa bitch (anjing betina) adalah umpatan yang sangat kasar yang biasa dipakai untuk menyebut wanita jalang? Apalagi waktu itu ia sedang menggandeng anaknya. Bukankah si anak ini menjadi cocok dengan umpatan lainnya, son of a bitch ? Seandainya si ibu ini cukup mengerti bahasa Inggris, tentu yang mau dikomunikasikannya adalah “saya bukan bitch “. Ini semacam pendifinisian double negative, di mana seseorang mengklaim (secara ragu-ragu) keanggotaan pada kelompok tertentu yang tidak eksis. Si ibu tadi mengklaim keanggotannya pada kelompok “perempuan/ibu yang baik” tanpa menghadirkan kelompok yang diklaimnya ini. Hal yang sama juga terjadi pada kasus salah satu teman yang memakai kaos bergambar logo Golkar untuk menunjukkan pengejekannya pada Golkar atau untuk mengatakan bahwa ia bukan simpatisan Golkar.

Dengan semakin tumbuhnya industri periklanan, kaos merupakan bilboards mini yang cukup efektif untuk mengkomunikasikan sebuah produk, sebagaimana mengkomunikasikan diri atau identitas. Seringkali kaos dijadikan iklan berjalan yang oleh pengiklan kadang-kadang dibagikan secara gratis. Di Indonesia, adalah hal yang biasa banyak orang berebut mendapatkan pembagian kaos dari OPP pada saat Pemilu (tak jarang juga disertai pembagian “amplop”). Perusahaan-perusahaan sekarang ini juga membuat kaos dengan nama atau logo perusahaan yang tertera di atasnya (Coca Cola, Reebok, Nike, Wilson), dan menjualnya di toko-toko sebagai pakaian produksi massal yang siap pakai. Bagi sejumlah besar pemakainya, tentu memakai kaos oblong tidak dimaksudkan sebagai iklan, melainkan sebagai indikasi status dan pendapatan pemakainya, loyalitas atau kepercayaan pada satu produk. Ia juga merupakan suatu bagian dari identitas diri, “Saya adalah penggemar Coca Cola”, “Seperti Michael Jordan, saya memakai Nike (bagaimana dengan Anda?)”.
Kaos-kaos buatan perusahaan tertentu dianggap mewakili gaya hidup atau selera yang khas, selain sekaligus si pemakai mengiklankan perusahaan pembuatnya. Misalnya kaos bermerek Benetton, Ralph Lauren atau Calvin Klein. Simbol-simbol tertentu pada kaos, seperti buaya kecil atau kuda poni dan pemain polo kecil (dan berbagai variannya), juga sangat penting. Simbol-simbol ini bukan hanya menunjukkan status pemakainya yang mampu mengkonsumsi pakaian buatan desainer mahal, tetapi juga status dalam sistem fashion itu sendiri (ketika kelompok desainer Parisian juga memproduksi kaos, apakah kaos menjadi high fashion ?).
Kaos dan Kehidupan Modern
Lebih dari jenis pakaian yang lain, sejarah kaos bukan saja menunjukkan cepatnya perubahan teknologi dalam industri garmen, melainkan juga menunjukkan bagaimana fashion bernegosiasi dengan ruang dan waktu.
Kaos semula hanya diakui sebagai pakaian dalam. Dan dalam kaitannya dengan pola penempatan ruang, sebagai pakaian dalam kaos adalah pakaian privat . Tetapi kemudian dengan negosiasi lewat media massa dan penemuan bahan serta model-model baru, kaos perlahan mulai tampil sebagai pakaian publik. Karena itu, sejalan dengan kecenderungan kehidupan modern, perjalanan kaos dari ruang privat ke ruang publik ini merupakan ekspansi ruang privat atas ruang publik (privatisasi ruang publik). Sementara dalam kaitannya dengan pola pemanfaatan waktu, kaos menunjukkan bagaimana waktu senggang semakin berhasil mengekspansi waktu yang lain dalam kehidupan sehari-hari. Kaos bisa dilihat sebagai bagian dari leisure class , yang menunjukkan statusnya dengan pemanfaatan waktu senggang sebesar-besarnya.
Persis seperti semboyan kaos oblong Dagadu ” Smart and Smile “, kaos oblong mengajarkan bagaimana hidup modern harus dijalani: berpenampilan cerdas, ringkas, tangkas, sekaligus santai. Hidup dengan segala tetek-bengeknya yang rumit ternyata tidak harus dijalani dengan rumit pula, melainkan bisa dijalani dengan “seperlunya dan santai”. Dalam perspektif ini, papan pengumuman di kampus-kampus yang berbunyi “Dilarang memakai kaos dan sandal” adalah warisan dari kehidupan masa lalu yang “serius” dan sebentuk “pendisiplinan gaya”, yang tidak lagi cocok dengan semangat smart and smile . Karena itu mahasiswa tetap saja berkaos oblong di kampus, pertama-tama bukan untuk menunjukkan perlawanan langsung mereka kepada aturan hidup yang lama, melainkan untuk menunjukkan bahwa diri mereka sendirilah yang paling berhak atas penampilannya. Dan bagaimana mereka harus berpenampilan, salah satunya ditentukan oleh resepsi mereka terhadap media massa, yang juga mengajarkan smart and smile (misalnya semboyan iklan telepon genggam Nokia seri 3210, “Begitu kecil, begitu cerdas”). Jadi hidup modern dijalani dengan semangat mengisi waktu senggang. Inilah yang disebut estetikasi kehidupan sehari-hari yang mencirikan kehidupan modern (di mana “yang etis” bergeser menjadi “yang estetis”). Semangat kehidupan modern sebenarnya adalah semangat kaos oblong.

sumber: http://kaosologi.wordpress.com/2009/09/09/hello-world/

Sabtu, 06 Desember 2014

this is our product guyss, check this out!!!!!


7 Warna Pakaian Yang Paling Cocok Untuk Wanita


Vemale.com - Memilih warna pakaian menjadi salah satu hal yang penting untuk wanita. Mix and match ini itu biar cocok saat dikenakan. Pilihan warna make up pun juga harus diperhatikan agar sesuai dengan warna pakaian. Nah dilansir dari allwomenstalk, ini lho Ladies 7 warna pakaian yang paling cocok untuk wanita.
Hitam
Warna hitam menjadi salah satu warna berkabung. Namun, warna hitam bisa memberikan kesan klasik, profesional, dan netral. Karena sifat netralnya, Anda bisa mengenakan warna hitam dalam kesempatan apa pun. Anda juga gampang memadupadankan aksesoris dan sepatu saat mengenakan warna hitam.
Biru donker
Nama lain biru dongker adalah biru navy. Warna yang satu ini selalu bisa membuat wanita tampil cantik dan anggun. Di tahun 90-an, warna ini pernah booming.
Krem
Warna yang satu ini memberikan kesan feminim namun klasik. Apapun warna kulit Anda baik terang maupun gelap, warna krem adalah pilihan yang sangat tepat. Selain itu, warna krem juga cocok dipadupadankan dengan warna lain seperti hitam, biru tua, dan warna-warna pastel lainnya.
Ungu
Kalau orang Indonesia menyebut ungu sebagai warna janda. Di negara barat, ungu adalah warna pilihan para bangsawan. Warna ungu muda memberikan kesan feminim menghanyutkan.
Coklat
Perpaduan warna coklat dengan kesan glossy dan shimmeing akan memberikan kesan mewah nan elegan. Padukan warna coklat dengan jeans untuk menambah kesan klasik maskulin tapi cantik.
Hijau Emerald
Penasaran hijau emerald itu yang seperti apa? Ya, warna hijau pada lampu lalu lintas adalah jawabannya Ladies. Berikan sentuhan warna hijau emerald pada gaun malam Anda. Tampilan mewah dan super keren milik Anda sepenuhnya.
Abu-abu
Abu-abu memberikan kesan keren dan trendy bagi Anda yang mengenakannya. Apalagi kalau Anda memilih warna abu-abu sebagai kostum kantor Anda. Perpaduan pink terang dan abu-abu akan semakin menghadirkan kesan feminin nan trendy.

sumber: http://www.vemale.com/fashion/tips-and-tricks/48338-7-warna-pakaian-yang-paling-cocok-untuk-wanita.html

Jumat, 05 Desember 2014

Ini Tipsnya Agar Tak Salah Membeli Ukuran Baju


Vemale.com - Sekalipun sudah dicoba di ruang pas, ternyata sesampainya di rumah Anda sering menyesali baju yang dibeli. Entah itu karena ukurannya terlalu besar, terlalu kecil atau kurang nyaman dipakai.
Sebelum berbelanja baju, cermati dulu beberapa tips berikut sehingga Anda tak sampai salah beli lagi.
Bandingkan sizenya
Minta dua atau tiga size sekaligus saat mencoba sebuah baju yang hendak Anda beli. Size yang lebih kecil dan size lebih besar, semua harus dicoba sehingga Anda tahu bagaimana baju tersebut nyaman dikenakan oleh Anda. Tak perlu merasa tidak enak, ini adalah hak Anda sebagai pembeli sehingga tahu mana yang terbaik.
Tes meraba
Remas bahannya, apakah ia nyaman dikenakan? apakah ia tidak panas? apakah ia tidak akan mudah kusut? apakah ia menyerap keringat dengan baik? semua hal itu wajib Anda ketahui agar Anda tidak salah pilih bahan.
Baca keterangan bahan
Baca terlebih dahulu keterangan perawatan baju yang ada di label. Ini akan memudahkan Anda lebih hati-hati dalam memilih busana yang akan dibeli. Bila terlalu sulit perawatannya, maka pilih item lain.
Perhatikan penampilan lewat cermin
Jangan remehkan cermin yang dipasang di ruang ganti. Anda wajib melihat dari berbagai sisi bagaimana penampilan Anda. Apakah terlalu pendek? terlalu ketat?
Coba berjalan
Seperti halnya mencoba sepatu atau sandal, baju juga harus dicoba dipakai sambil berjalan atau bergerak. Bila Anda kesulitan bernapas atau bergerak, maka ukurannya terlalu kecil.
Selalu cermat dalam berbelanja ya, ladies.

sumber: http://www.vemale.com/fashion/tips-and-tricks/60312-ini-tipsnya-agar-tak-salah-membeli-ukuran-baju.html

Kamis, 04 Desember 2014

5 Jenis Fashion Yang Tak Akan Pernah Ketinggalan Jaman


Vemale.com - Dalam membeli pakaian, beberapa hal yang kita pertimbangkan adalah model, harga, kebutuhan dan apakah pakaian itu akan tetap hype sepanjang tahun? Poin terakhir sangat penting kalau Anda bukan tipe yang suka beli baju baru dalam 2 bulan. 
Fashion memang terus berputar, namun ada juga beberapa jenis fashion yang tidak akan pernah lekang dimakan waktu dan sangat layak bertahan di lemari Anda. Kalau Anda menemukan pakaian dengan jenis-jenis berikut, mungkin lebih baik dibeli daripada membeli pakaian yang trennya hanya sementara. 
  • Kaos Putih

    Sejak jaman Nike Ardila hingga kini, kaos putih masih dicari banyak orang. Selain netral, juga memberikan kesan simple yang bisa dipadukan dengan apapun. Punya 2-3 stel kaos putih dengan berbagai gaya tak akan membuat Anda rugi, Ladies.
  • Turtle Neck

    Gaya yang satu ini juga keren. Klasik, simple tapi tidak akan pernah lekang dimakan waktu. Tutle neck bagi mereka yang berleher jenjang adalah salah satu pakaian yang bisa menunjukkan pesona tubuh mereka dalam berpakaian. It's good for rainy season too.
  • Little Black Dress

    Dress yang terkenal dengan statement never goes wrong karena cocok dipakai di berbagai acara ini juga merupakan pakaian yang cocok untuk segala musim. Simple, feminin dan misterius. Anda bisa menggunakannya untuk kerja, pesta dan hangout.
  • Kemeja Berkerah

    Apapun model yang Anda sukai dari pakaian yang satu ini, keep it long lasting. Karena pakaian ini akan bisa terus Anda pakai sepanjang tahun, bahkan bisa di mix and match dengan berbagai outer. Bisa digunakan dari santai hingga formal, hidup jadi lebih mudah kan?
  • Celana Kain

    Pecinta celana kain dibanding legging atau jeans, kabar gembira karena celana kain bukan pakaian yang ketinggalan jaman. Selain bisa all purpose, Anda juga bisa berkreasi dengan celana yang satu ini. Celana kain tak hanya satu warna, Anda bisa memilih kain dengan motif dan model menarik untuk mix and match.
  • sumber; http://www.vemale.com/fashion/tips-and-tricks/66836-5-jenis-fashion-yang-tak-akan-pernah-ketinggalan-jaman.html